Wijile Dina Raya Korban
Banyak cara hamba mendekati Allah. Salah satunya adalah dengan mengorbankan hartanya, yang ditukar dengan kambing atau sapi, disertai dengan harapan Allah menerima qurban hamba-Nya sebagaimana dulu untuk pertama kalinya Allah menerima persembahan kurban dari manusia, dari Habil putra Nabi Adam as. Yang kita korbankan tentu adalah harta atau sesuatu yang memnag kita terasa berat untuk dilepas. bukan sekedar harta yang kita keluarkan.
Mari kita renungkan, adakah layak disebut 'berkurban' sementara tidak ada sebuah rasa pengorbanan terhadap apa yang kita cintai, sehingga kita sulit untuk melepaskannya ?.
Bisa kita bayangkan bagaimana seorang Nabi Ibrohim as mengeluarkan ratusan onta untuk daging kurbannya. Bahkan beliau mematuhi perintah Allah untuk mengurbankan anaknya sendiri Nabi Ismail as yang begitu mencintainya.
Tentu logika pemikiran kita perlu diajak memaknai, mengapa kita akhirnya mafhum bahwa betapa banyak umat Islam - mungkin termasuk kita sendiri - yang setiap tahun sanggup mengeluarkan sebagian dana untuk berkurban, namun yang kita peroleh dari penyisihan dana tiada berbekas. Ia hanya lewat begitu saja, tidak membawa perubahan sedikitpun di dalam diri kita.
Apakah hakikat Idul Qurban berhasil kita peroleh, ketika "kedekatan dengan Allah" yang menjadi intisari amal ini, ternyata tidak bertambah? ketika jiwa kita ternyata belum menjadi semakin halus, jasad kita tidak semakin beramal baik, sementara melalui ied kita berharap menemukan amal saleh terbaik kita ?
Nama lain Iedul Qurban adalah Iedul Adha. 'Adha' memiliki makna penyembelihan, bahwa ada sesuatu musti yang kita sembelih disetiap perayaan Iedul Adha setiap tahunnya.
ketika sebagian dari kita belum berkmampuan untuk menyisikan sebagian dana yang kita miliki untuk berkurban, kita sebenarnya telah Allah beri kemampuan sebuah modal penyembelihan lainnya: yakni menyembelih aspek hawa nafsu kehewanian dan syahwat kita. Bukankah hal-hal itu yang memang menggiring seseorang menjadi perilaku layaknaya 'hewan sembelihan'.
Mari kita sama-sama belajar untuk "menyembelih" aspek kedengkian, ketakaburan, buruk sangka, keinginan pengakuan bahwa diri ini lebih baik dari pada orang lian, mari bersama berjuang untuk menyembelih ke-aku-an pada dalam diri kita sehingga kita menemukan siapa diri kita sebenarnya.
sungguh tidak mudah untuk menyembelih syahwat dan hawa nafsu pada diri ini, maka dari itu memerlukan seorang dokter (Mursyid /guru ruhani) untuk mengasihkan resep obat buat penyakit kita ini sehingga terkontrol dengan pengawasan resep dokter.
Tapi, yang membuat kita senantia memiliki harapan kuat, adalah bahwa Allah tidak pernah bosan menerima dan menerima terus, setiap penyesalan kita, setiap kesadaran diri kita yang lemah, dan di setiap pengakuan dosa kita. Semoga pengakuan ini menjadi tanda bahwa memang kita butuh dan selalu membutuhkan Dia. Sang Maha Pengayom dan Pembuka Jalan.
Semoga kita berhasil merayakan Iedul Adha dengan bersama-sama membangun kesadaran diri yang lebih baik lagi
Ya Allah, mugi pengorbanan hamba, demi taqarrub maring panjenengan, mugi penjenengan ngupai kekuatan kangge "nyembelih" hawa nafsu, syahwat lan ke-aku-an sing gawe ghoflah maring panjenengan...aamiiin Gusti
Penulis : Ar-Rosyid

0 Response to "Wijile Dina Raya Korban "
Post a Comment